Adalah, hal – hal yang membuat ku bahagia.
Haai.. Apakabar kalian ? Terimkasih sudah mampir, berkunjung lagi lah lain waktu. senang melihat anda hari ini lebih muda dari biasanya.
Akan menjadi tulisan kedua ku di
tahun ini, sebelum ini ada satu tulisan yang isi nya perkenalan ku, hanya saja
tulisanya ku urai sangat amat gamblang, parah sih emang itu isi nya, kacau. Lalu
dia berkata sambil tertawa kalau tulisan ku payah, kayak baca sampah. Hahaha..
iya sih kalau di pikir-pikir.
Tema-nya adalah hal – hal yang membuat ku bahagia. Ini juga termotifasi dari
beliau, setelah ia katakan kalau aku
bisa menulis lebih baik dari perkenalan sampah tadi. Sebelum nya aku melihat
salah satu temanku, senior juga di kuliah. Sempat beberapa kali memposting
tulisannya dengan beberapa tema, sempat aku pikir kalau itu perlombaan,
ternyata tidak, akunya.
Lalu apa hal-hal yang membuat ku
bahagia, mungkin sebagian dari kita akan berkata menjadi objek yang di cintai,
sosok yang di idolakan dan popular, dapat menjalani kehidupan dengan damai,
layak dan berkecukupan. Sah – sah saja aku rasa. Tapi yang pasti taraf bahagia
bagi setiap orang tidak dapat di sama rata kan. Ada yang hanya bisa berkumpul
dengan orang yang ia dan mencitainya sudah cukup. Dan ada banyak hal lain,
mungkin punya pekerjaan yang penuh tantangan seperti petarung MMA mungkin. Atau
menjadi bagian dari kerabat sultan, tiap satu minggu bisa dua sampai empat kali
berbelanja pakaian atau sweater baru bisa membuatnya bahagia. Lalu kalau aku
apa ? bisa chat sama dia saja sudah sih kalau aku, hahaha… (sudah terdengar
seksi belum suara aligatornya).
Apa ya, iya mungkin karena taraf hal yang membuat kita bahagia tadi tidak bisa di sama ratakan. Menurutku bisa melakukan hobi seperti main bola, pergi ke tempat - tempat terbaik di belahan bumi pertiwi ini untuk banyak sesi pemotretan, punya pasangan yang dapat mendukung dan mendampingi berbagai rutinitasku kelak, ya seperti – seperti itu lah. Maka menurutku bukan di cintai tapi mencitai, popular bonus tapi enggak juga bukan persoalan. Menjalani kehidupan dengan damai, layak dan berkecukupan adalah tuntutan untuk terus di upayakan. Maka kalau mau merasa bahagian dengan itu perlu ada pengupayaan dan pasti itu berat di awal – awal dan mungkin akan terasa tidak ada bahagia - bahagianya. Intinya lebih kurang seperti itu lah, standar bahagia ku ya seperti hal – hal di atas tadi.
Pernah ngebayangin bisa tinggal
sebulan di salah satu pulau terbaik di negeri ini, menghabiskan waktu bak turis
manca negara, naik gunung turun gunung, berjemur di pantai ala ala bule, memetik
teh di ladangnya mengolahnya lalu menyeduhnya saat pagi, sore hari menggiling
biji kopi dari hasil memetik di ladang
satunya tempo hari, lalu menyeduhnya dan menikmati sendiri dari petang
hingga malam. Pagi ketemu pagi menghirup udara segar pegunungan, matahari
terbit hangat. Siang makan nasi dengan ikan asin dengan sambal terasi dan daun
singkong rebus. Setelahnya menulis, atau berkeliling dengan membawa bawa
kamera, dan di beberapa sore bisa berselancar di laut berombak, jumat sabtu
minggu naik gunung lagi. Apa lagi kalau itu sama dia. Sebulan saja hahaha. Standar
bahagia parah itu. Ya namanya ngehayal itu, jangan di serius – seriusin.
Intinya apapun dan bagaimana pun standar bahagia kita sebaiknya untuk tidak terlalu di paksakan, menanti sampai saat yang tepat, saat yang baik, saat yang memungkinkan. Upayakan hal – hal yang dapat mendukung dan mendorong pada apa yang kita inginkan, persiapkan segala kemungkinan untuk moment-moment terbaik dalam hidup.
Malam ini, saat aku menulisnya udara terasa lembab padahal hari ini hujan tidak turun. Ada kopi flores persembahan dari sohib di kos, orang tua yang sangat sibuk dengan aktifitasnya,
Selamat Malam.
Komentar
Posting Komentar